SIKAP DALAM MENGHADAPI QADA DAN QADAR
Allah Mahakuasa untuk berbuat apa saja yang dikehendakinya, tetapi kita juga harus yakin bahwa Allah adil. Maha Adil itu tidak berlaku dzalim pada hamba-hambaNya. Ketika dihadapkan pada situasi yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan, yang pahit, yang sama sekali tidak menyenanginya, maka kita diperintahkan mengimani qadha dan qadar. Mengimani bahwa Allah lah yang Mahakuasa di satu sisi dan meyakini bahwa Allah Mahaadil di sisi lain. Apa yang Allah berikan kepada kita pasti yang terbaik.
Keimanan kita pada qadha dan qadar melahirkan ajaran tentang konsep ridha. Menerima segala yang
diputuskan Allah, sabar dalam menyikapinya, kemudian bertawakal membangun langkah-langkah usaha. Dan ujungnya pasrah kepada Allah SWT atau disebut juga ikhtiar.
Al-Qur'an memberikan ajaran dalam surat Al-Insyirah bahwa beserta kesulitan ada kemudahan. Itu adalah sunnatullah. Tidak ada kesulitan yang abadi dan tidak ada kemudahan yang abadi. Tidak ada derita yang abadi sebagaimana tidak ada bahagia yang abadi. Sepanjang hidup di dunia ini adalah fana. Semuanya pasti ada akhir. Itu harus diyakini oleh kita.
Oleh karena itu, ada sebuah nasihat, "Ketika kita memperoleh suatu kesulitan, cobalah senyum sejenak. Senyum itu pertanda sehabis kesulitan ada kemudahan. Begitu kita mendapat kebahagiaan, juga jangan sampai lupa kerutkan kening sejenak karena ini pertanda bahagia ada akhirnya."
Perjalanan hidup manusia memang begitu berputar. Seperti putaran roda pedati. Kadang-kadang sulit, kadang-kadang mudah, kadang-kadang sukses, kadang-kadang gagal, kadang-kadang untung, kadang-kadang rugi. Itu sunnatullah, sudah menjadi bagian hukum Allah yang ditetapkan pada setiap manusia.
Tidak ada manusia yang menderita selamanya, tidak ada pula manusia yang gembira selamanya. Pasti semuanya mengalami. Yang membedakan, bagaimana sikap seseorang menghadapi semua kehidupan itu. Ketika dihadapkan pada kesulitan, kepahitan, dan penderitaan, mantapkan keimanan kita pada qadha dan qadar Allah.
Allah Mahakuasa untuk berbuat apa saja kepada kita. Sehingga harus kita imani bahwa Allah tidak mungkin kejam, dzalim, tapi Allah memberikan seuatu itu yang baik untuk kita. Inilah yang diingatkan dalam firmannya, "Kadang-kadang kamu membenci sesuatu, tapi yang kamu benci itu justru yang akan membahagiakanmu. Kadang-kadang kamu mencintai sesuatu, tapi justru yang kamu cintai akan menjerumuskan kamu."
Ketika kita mendapatkan sesuatu kesulitan, barangkali ini yang terbaik. Begitu pun ketika menemukan kesenangan, kita jangan sombong. Justru akan mendatangkan kebahagiaan bagi kita. Konsep sabar dan syukur menjadi kunci penting untuk menyikapi semua realitas itu, dengan sikap yang betul-betul bisa memberikan kenyamanan dalam hidup.
Kadang-kadang kita membenci suatu keadaan, tapi tidak senang dengan situasi sulit, padahal apa yang tidak kita senangi itu yang akan membahagiakan kita. Oleh karena itu, ada ajaran dalam agama, di balik kesulitan yang menimpa kepada kita, menghasilkan hikmah. Semacam keberuntungan, kenikmatan di luar estimasi nalar kita. Sesuatu keberuntungan yang diperoleh justru melalui proses kepahitan. Pelajaran tersebut sering dialami kita. Janganlah kita menganggap Allah tidak adil, tidak sayang, sikap tersebut harus dihindari. Sebab kadangkala sesuatu yang kita benci, justru itu yang akan membahagiakan kita.
Dalam konteks hubungan dengan manusia, ada nasihat dari Rasul, "Kalau kamu terlanjur mencintai seseorang, janganlah habis-habisan. Cintailah orang yang kamu cintai itu enteng-enteng saja. Siapa tahu orang yang kamu cintai sekarang justru akan mencelakakan kamu di masa yang akan datang. Kalau kamu terlanjur membenci seseorang, jangan pula habis-habisan, justru bisa jadi di masa yang akan datang orang yang kamu benci akan memberikan kebahagiaan."
Ajaran lain dalam menyikapi situasi yang tidak mengenakan yaitu ajaran dalam konsep ujian. Allah memberikan sejumlah ujian kepada hamba-hambaNya, berulangkali dalam Al-Qur'an Allah mengingatkan hambaNya, "Apa manusia mengira sudah beriman, padahal Allah belum menguji. Dan kami telah menguji umat sebelum kalian. Dan kami tahu mana di antara mereka yang betul-betul kuat iman dengan yang tidak."
Begitu halnya dalam sebuah hadits qudsi, untuk mengetahui kualitas keimanan, Dia menguji hambaNya. Memang ujian adakalanya dalam kepahitan, tapi ada kalanya dalam kesuksesan. Banyak orang yang gagal ketika diuji oleh kesulitan, tapi lebih banyak lagi yang gagal ketika diuji oleh kenikmatan.
Nah, ketika kita dihadapkan pada situasi yang tidak mengenakan, tidak menyamankan, salah satu yang harus disikapi, "Siapa tahu saya sedang diuji Allah. Kenapa diuji? Karena Allah menghendaki supaya saya bisa naik kelas."
Keimanan harus melalui proses, yaitu ujian. Sekalipun sudah yakin bahwa sesuatu yang kita lihat suatu kepahitan, tapi justru menurut Allah itu kebaikan, seringkali manusia tidak tabah. Maka ajaran Islam memberikan solusi secara spiritual.
Agama mengajarkan ketika kita dihadapkan pada kesulitan yang kita tidak sanggup sabar menghadapinya, maka ambilah air wudhu, lakukan shalat syukrul wudhu. Serahkan kepada Allah. "Tuhanku, cukuplah Engkau pelindungku, cukuplah Engkau penolongku, dan cukuplah Engkau sumber rezekiku."
Kalau dihadapkan pada ketidaksenangan, mintalah kepada Allah, "Ya Allah, berilah kami hati yang tentram, hati yang tenang, yang iman saat berjumpa denganMu, dan rela atas semua apa yang kau berikan kepadaku." Juga perbanyak do'a dan dzikir dalam menghadapi berbagai situasi. Sebuah pelajaran menyangkut realitas tidak sesuai dengan keinginan. Apa yang kita inginkan tidak selalu teralami dan apa yang tidak kita inginkan malah teralami. Itulah perjalanan hidup di dunia. Islam menyodorkan konsep tentang iman qadha dan qadar sebagai bagian dari keyakinan kita akan ke-Mahakuasa-an Allah SWT. Selain kita juga yakin ke-Maha adil-an Allah.